DP3AKB JABAR, Universitas Jenderal A. Yani, Ruang Tengah, dan SeMeDi Mengadakan Webinar Kesehatan Jiwa

DP3AKB JABAR, Universitas Jenderal A. Yani, Ruang Tengah, dan SeMeDi Mengadakan Webinar Kesehatan Jiwa

(Humas Unjani) – DP3AKB Jawa Barat, Universitas Jenderal A. Yani, Ruang Tengah, dan SeMeDi menyelenggarakan webinar yang bertajuk Menguatkan Kesehatan Jiwa Pada Mahasiswa. Webinar ini dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19 melalui aplikasi Zoom Meeting dan live streaming di kanal Youtube Ruang Tengah pada hari Sabtu (24/07/2021) pagi.

Pembicara yang hadir pada webinar ini antara lain, dr. Siska Gerfianti, M.H.Kes., Sp.DLP., dr. Teddy Hidayat, Sp.KJ (K), dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ., Dr. Arlisa Wulandari, dr., Sp.KJ., M.Kes., dan dr. Irwanto Ichlas, Sp.KJ (K).

Kegiatan webinar dimulai dengan sambutan dan dibuka oleh Dr. dr. Sutrisno, S.H., M.A.R.S., M.H.Kes., Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jenderal A. Yani. Dalam sambutannya, beliau mengatakan, “Saya memandangnya, ilmu jiwa ini besar sekali perannya terhadap kesuksesan belajar dari para mahasiswa. Pengmas ini kita harapkan nanti juga akan bermanfaat bukan hanya kepada masyarakat tetapi juga kepada mahasiswa yang saat ini sedang belajar untuk menempuh Pendidikan Dokter, apalagi di masa pandemi ini, faktor-faktor kejiwaan ini banyak sekali yang muncul.”

Setelah sambutan dari Dekan FK Universitas Jenderal A. Yani, acara masuk ke bagian inti yaitu paparan presentasi dari keynote speaker, pemateri pertama, dr. Siska Gerfianti, M.H.Kes., Sp.DLP. Beliau merupakan Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat dan membahas The Role DP3AKB in Nation Building: Focus on Strengthening Education Role. Poin-poin yang terdapat dalam paparan ini antara lain, indikator kinerja utama gubernur, memiliki dua poin yaitu Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender. Dimana, hasil dari capaiannya telah mencapai target yang telah ditentukan pada tahun 2020. Indeks Pemberdayaan Gender yang ditarget sebesar 69,28 berhasil mencapai 70,24 pada tahun 2020 sedangkan Indeks Pembangunan Gender yang ditarget sebesar 88,50 berhasil mencapai 89,20 juga pada tahun yang sama (Rilis BPS pada bulan Februari 2020). Selain itu, terdapat isu-isu permasalahan di Jawa Barat yaitu, pernikahan anak, perceraian, human trafficking, prevalensi stunting, angka kematian ibu dan bayi, dan kasus kekerasan. Dari permasalahan yang ada, DP3AKB memberikan solusi untuk permasalahan tersebut dalam bentuk kegiatan yakni, Sekoper Cinta (Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita), Ngabaso (Ngabring Ka Sakola), Beranda, Setangkai (Sekolah Tanpa Gangguan Gawai), Stopan Jabar (Stop Perkawinan Anak di Jawa Barat), Kalua, Kekasih Juara (Kendaraan Konseling Silih Asih Jawa Barat), UP TD PPA, dan Motekar (Motivator Ketahanan Keluarga).

Berikutnya merupakan penyampaian materi kedua dari dr. Teddy Hidayat, Sp.KJ (K) dengan membahas Kesehatan Jiwa Mahasiswa. Terdapat poin-poin yang disampaikan diantaranya, permasalahan kesehatan jiwa pada mahasiswa merupakan suatu hal yang sangat penting dan memiliki magnitude yang besar namun belum banyak mendapat perhatian. Hal tersebut dapat menyebabkan kerugian yang besar dimulai dari prestasi akademis kurang, kelulusan terlambat, drop out, gangguan jiwa bahkan hingga bunuh diri. Menurut Career for Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjajaran, selama pandemi Covid-19, 47% mahasiswa mengeluh depresi. Penyebabnya bisa berasal dari media sosial, insomnia, ketidakpastian, dan masalah finansial. Solusi yang bisa dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut yaitu mulai mengurangi tekanan lingkungan; meningkatkan resiliensi mahasiswa. Membekali mahasiswa cara mengatasi tekanan atau mengelola stress, dan menemukan arti dari sebuah kehidupan.

Selanjutnya, merupakan presentasi dari Dr. Arlisa Wulandari, dr., Sp.KJ., M.Kes., merupakan dosen Jurusan Kedokteran FK Universitas Jenderal A. Yani. Materi yang disampaikan pada kesempatan ini yaitu Perilaku Self-Harm dan Bunuh Diri Pada Mahasiswa. Terdapat beberapa poin yang penting dalam presentasi dari Dr. Arlisa diantaranya, self-harm merupakan sebuah Tindakan yang dengan sengaja menyakiti atau melukai bagian tubuh sendiri sedangkan bunuh diri merupakan Tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Banyak alasan-alasan mengapa melakukan self-harm karena rasa sakit fisik lebih bisa diatasi dari pada sakit emosi, sulit menyampaikan secara verbal atau berekspresi secara sehat, buat orang lain mendekat atau takut ditinggal saat kesulitan, dan lain-lain. Beberapa karakteristik orang yang melakukan self-harm antara lain, sering depresif (murung) atau cemas, rendah diri (merasa tidak sempurna), dan sulit mengekspresikan emosi secara verbal. Biasanya terdapat bekas luka, memar, sayatan, pukulan, biasanya ada pada area lengan, paha atau dada merupakan tanda seseorang melakukan self-harm.

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), angka kematian akibat dari bunuh diri di dunia mencapai lebih dari 700.000 orang pertahun. Sedangkan angka percobaan bunuh diri terdapat lebih dari 20 percobaan setiap 1 kejadian bunuh diri. Penyebab dari bunuh diri antara lain karena masalah sosial-ekonomi, deprivasi sosial, masalah perkawinan dan keluarga yang kurang harmonis, masalah Kesehatan fisik dan gangguan kejiwaan. Sikap yang diharapkan agar tidak terjadi bunuh diri yaitu respek, tidak menghakimi, perhatian, tenang, mau mendengar, dan suportif.

Terakhir, merupakan paparan materi dari dr. Irwanto Ichlas, Sp.KJ (K), dosen Jurusan Kedokteran FK Universitas Jenderal A. Yani. Beliau membahas Penatalaksanaan Masalah Kesehatan Jiwa di Kalangan Mahasiswa. Poin-poin yang didapatkan dari presentasi ini antara lain, terdapat beberapa masalah yang dihadapi oleh mahasiswa. Masalah tersebut yaitu masalah pribadi, masalah keluarga, masalah studi atau pembelajaran, masalah ekonomi, dan masalah mahasiswa yang menderita sakit. Beberapa gangguan mental psikiatrik akibat stress di kalangan mahasiswa antara lain gangguan psikotik, gangguan neurotik dan afektif, dan gangguan psikosomatik.

Acara webinar tentang kesehatan jiwa di kalangan mahasiswa berjalan dengan baik dan lancar. Selain itu, tidak ada hal-hal yang terkait dengan gangguan teknis terjadi. Dengan demikian, acara juga berjalan sesusai dengan rancangan dan yang diharapkan.

 

Penulis: M. Ismail Mangkusubroto

 

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *