Peringati Sumpah Pemuda dan HUT Menwa ke-38, Menwa Mahawarman Kompi BS Universitas Jenderal A. Yani Adakan Webinar Bela Negara

Peringati Sumpah Pemuda dan HUT Menwa ke-38, Menwa Mahawarman Kompi BS Universitas Jenderal A. Yani Adakan Webinar Bela Negara

 (Humas Unjani) – Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda serta HUT Menwa ke-38, pada Sabtu (30/10) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahawarman Kompi BS Universitas Jenderal A. Yani adakan webinar secara hybrid. Webinar ini membahas tema ‘Membangun Karakter dan Kesadaran Bela Negara Pada Generasi Milenial’ dan bertempat di Ruang Rapat Gedung Rektorat Universitas Jenderal A. Yani serta Zoom Meeting.

Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor III yang mewakili Rektor Universitas Jenderal A. Yani, dr. Dewi Ratih Handayani, M.Kes. dan menghadirkan narasumber, yaitu Brigjen TNI Purn. Dr. Chairussani Abbas Sopamena, S.IP., M.Si. (Ketua BPH Universitas Jenderal A. Yani) dan Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp, M.Si., M.Kom. IPU (Komandan Menwa Mahawarman Jawa Barat). Acara ini juga dimoderatori oleh Dr. Luqman Munawar Fauzi, S.IP., M.Si (Kepala Biro Pelayanan Akademik).

Dalam sambutan pembukanya, Wakil Rektor III menyampaikan bahwa hal penting yang dapat diambil dari tema webinar ini, yang pertama adalah membangun karakter. Dengan membangun karakter, mencerminkan watak atau sifat dasar untuk bela negara. Yang kedua adalah generasi milenial, masa kini, banyak sekali informasi yang tidak terfilter, maka dari itu penting sekali menerapkan bela negara pada generasi milenial. Tugas dari bela negara ini adalah menerapkan rasa cinta tanah air, yang mana merupakan tugas kita sebagai warga negara. Bela negara pula dapat diartikan sebagai bentuk perwujudan rasa cinta kepada negara. “Saya mengharapkan agar tujuan dari webinar ini dapat tercapai dan terimplementasikan,” harap dr. Dewi.

Berdasarkan laporan Gimae Agung Laksono selaku Komandan Menwa Kompi BS Universitas Jenderal A. Yani, sasaran utama peserta webinarini adalah mahasiswa serta siswa SMA/SMK se-Indonesia. Pihak Menwa menargetkan sebanyak 200 orang peserta, namun dengan melihat antusias para peserta, webinar ini dihadiri oleh 1000 orang peserta. Banyaknya peristiwa yang mengguncang bela negara melalui isu-isu negatif seperti SARA, sehingga penting untuk memahami kembali mengenai bela negara. Agung juga menyampaikan harapannya untuk para peserta agar mengikuti acara sampai akhir dan bisa menanamkan kesadaran bela negara.

Masuk ke narasumber pertama, yaitu Brigjen TNI Purn. Dr. Chairussani Abbas Sopamena, S.IP., M.Si., menyampaikan terkait lima keunggulan generasi milenial. Diantaranya merupakan generasi yang berada pada transisi yang menjadikan generasi milenial menjadi spesialis, tidak ragu dalam berpendapat, memiliki toleransi lebih tinggi terhadap perbedaan, lebih kreatif dalam menggunakan teknologi, serta optimis membantu membangun bangsa dan negara.

Permasalahan terpenting dalam bela negara, yaitu permasalahan pangan, energi, dan air. Menurut teori Malthus, semakin hari, pertumbuhan penduduk semakin terlihat. Semakin banyak pula anak yang meninggal akibat krisis pangan dan masalah kesehatan. Peran generasi milenial dalam membela negara perlu dilakukan dengan berbagai cara, namun bukan dengan mengangkat senjata.

Dr. Abbas pun menyampaikan bahwa peran mahaisswa dalam bela negara adalah dengan mengangkat pena, menggunakan pikiran yang kuat, dan melakukan penelitian untuk menambah kekayaan energi alternatif. “Bela negara ada di jiwa kita selama Indonesia masih ada dan selama kita masih berada di Indonesia,” ujar Dr. Abbas.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp, M.Si., M.Kom. IPU menyampaikan terkait pentingnya pembentukan karakter. Membangun karakter sama halnya dengan membangun negara. Kunci utama pembentukan karakter adalah dari bidang pendidikan. Dengan melaksanakan pendidikan dengan benar, sama halnya dengan membangun karakter. Prof. Eddy pun menekankan bahwa karakter bisa saja diubah, tetapi membutuhkan waktu dengan melihat kebiasaannya. Untuk merubah karakter yang buruk, perlu dicelupkan ke lingkungan yang baik. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa dengan cuci otak, apabila dilakukan terus menerus bisa saja karakter baiknya akan luntur.

 

 

Penulis: Salsabyla Fitrian Shidiq (Farmasi 2019)

Editor: M. Ismail

 

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *