Pengabdian Kepada Masyarakat: Potensi Kumis Kucing Sebagai Imunostimulan Jamu Dimasa Pandemi Covid 19 Kepada Paguyuban Jamu Manunggal Kota Cimahi

Pengabdian Kepada Masyarakat: Potensi Kumis Kucing Sebagai Imunostimulan Jamu Dimasa Pandemi Covid 19 Kepada Paguyuban Jamu Manunggal Kota Cimahi

(Universitas Jenderal A. Yani) – Fakultas Farmasi Universitas Jenderal A. Yani mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Pengmas) dengan tema “Sosialisasi Potensi Tanaman Kumis Kucing Sebagai Imunostimultan yang Dapat Digunakan di Masa Pandemi Covid-19 Penjelasan Khasiat, Penanaman, dan Pengolahan Pasca Panen”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu (25/12) dan bertempat di wilayah Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Pengmas ini diketuai oleh apt. Faizal Hermanto, S.Si., M.Si dan terlaksana atas Bantuan Pendanaan Program Penelitian Kebijakan MBKM dan Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian PTS Tahun 2021.

Pada kegiatan pengmas ini hadir pula empat pemateri. Keempat pemateri tersebut diketuai oleh apt. Faizal Hermanto, M.Si. dengan anggota Dr. apt. Fahrauk Faramayuda, S.Si., M.Sc, Dr. apt. Suryani, S.Farm., M.Si., dan apt. Akhirul Kahfi Syam, S.Farm., M.Si

Kegiatan dimulai dan dibuka oleh Ketua Pelaksana. Dalam pembukaannya, beliau berterima kasih kepada para peserta karena telah hadir pada kegiatan pengmas yang dilaksanakan hari Sabtu ini.

Selanjutnya masuk ke bagian inti acara, yaitu pemaparan materi. Materi pertama disampaikan oleh Dr. apt. Fahrauk Faramayuda, S.Si., M.Sc dan membahas tentang pengenalan terhadap tanaman kumis kucing.

Menurutnya, kumis kucing merupakan tanaman herbal. Mengandung senyawa sinentesin yang berpotensi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain sebagai tanaman yang dapat memperlancar air seni dan mencegah penyakit ginjal.

Materi selanjutnya disampaikan oleh apt. Akhirul Kahfi Syam, S.Farm., M.Si. Dalam kesempatan kali ini, dia memberikan informasi tentang bagaimana cara pembibitan tanaman kumis kucing dari awal sampai akhir dan teknik pemanenan. Melalui video pembelajaran kepada seluruh peserta.

Beliau berpendapat bahwa pembibitan kumis kucing dilakukan dengan metode vegetatif. Maksudnya adalah pembudidaya harus melakukan stek dari tiga pucuk utama. Kemudian ditanam ke dalam polybag. Ketika sudah besar, tanaman ini mesti dipindahkan ke pot yang lebih besar.

Kumis kucing akan dipanen pada usia 10 bulan. Pemanenannya sendiri dengan cara memetik tiga daun utama di bagian pucuk. Kemudian dicuci sampai bersih dan dikeringkan lewat berbagai cara, salah satunya lewat media oven.

Sementara itu, pembicara pada materi terakhir adalah Dr. apt Suryani S.Farm., M.Si. Beliau menyampaikan pengaruh proses pemanenan kumis kucing terhadap kandungan yang ada di dalamnya. Dalam paparan ini, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan terkait kandungan dan cara memanen dengan baik dan benar.

Dalam sesi wawancara, Ketua Pelaksana apt. Faizal Hermanto, M.Si. pengmas berharap bahwa para peserta yang merupakan penjual jamu mendapatkan edukasi mengenai kumis kucing yang memiliki manfaat lain sebagai peningkat daya tahan tubuh (imunostimulan) dimana umumnya kumis kucing dikenal sebagai tanaman berkhasiat peningkat pengeluaran volume urin (diuretik).

Disamping meningkatnya pengetahuan dan pemahaman tentang daun kumis kucing, pedagang jamu juga mampu menanam, memanen sekaligus mengelola tanaman kumis kucing secara optimal untuk meningkatkan nilai kualitas jamu yang akan dihasilkan oleh Paguyuban. Pada sisi lain, Ketua Paguyuban Jamu Manunggal Kota Cimahi, Ibu Siti Muslikhah, berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan nantinya. Membahas hal-hal lain seperti aturan dosis minum ramuan tanaman kumis kucing.

 

Penulis: Muhammad Iqbal Maulana (Hubungan Internasional – 2020)

Editor: Akhirul Kahfi Syam

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *