Mewaspadai Potensi Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

Mewaspadai Potensi Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

(Universitas Jenderal A. Yani) – FITKes Universitas Jenderal Achmad Yani melalui Program Studi D-3 Keperawatan sukses melaksanakan kuliah pakar keperawatan dengan tema Climate Change “Mewaspadai Potensi Bencana Hidrometeorologi di Indonesia” pada Minggu (30/01) melalui platform Zoom Meeting. Kuliah pakar ini turut mengundang Syahirul Alim, S.Kp., M.Sc., Ph.D. selaku Sekretaris Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi, PSIK FK UGM sebagai pembicara dan Dedi Supriadi, S.Kep., Ners., M.Kep. selaku Dosen Keperawatan D-3 FITKes Universitas Jenderal Achmad Yani sebagai moderator.

Menurut Syahirul Alim dalam pemaparan materinya, perubahan iklim ini diakibatkan oleh suhu rata-rata bumi yang meningkat dan perubahan secara global. Semakin banyak emisi baik dari kendaraan bermotor atau pabrik maka semakin besar juga sisa hasil pembakaran dalam bentuk karbon juga semakin banyak panas yang turun ke bumi. Perubahan iklim inilah yang menyebabkan cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kenaikan permukaan laut, banjir, kekeringan, badai dan angin topan, serta kebakaran hutan dan penurunan kualitas udara bersih. Perubahan iklim ini dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan seperti kegagalan kardiovaskular, cedera, gangguan kesehatan mental, asma, malaria, kolera, malnutrisi, serta diare. Terkait perubahan iklim, ada 3 faktor yang berpengaruh, yaitu faktor dari kerentanan, paparan, dan kemampuan kapasitas.

Untuk ICN Disaster Nursing Competencies terdapat 8 domain berdasarkan fase bencana yang terbagi lagi ke dalam 3 kategori, yaitu pre-insiden, insiden, dan post-insiden. Sehingga peran perawat pada pencegahan atau mitigasi, antara lain mengidentifikasi resiko individu dan komunitas, berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, menyusun rencana strategis untuk evakuasi. “Dengan ini, perawat sangat berperan penting pada Pengurangan Resiko Bencana (PRB), perawat wajib untuk bisa terlibat aktif dalam PRB, dan perawat harus mampu berkolaborasi lintas disiplin dalam PRB,” tutur Syahirul Alim sebagai penutup dalam penyampaian materinya.

 

Penulis: Salsabyla Fitrian Shidiq (Farmasi 2019)

Editor: M. Ismail

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *